RiangMentari

Sunday, July 16, 2006

Perjanjian dengan Angin

Untuk waktu yang sudah lewat

kau tidak bisa berkata tidak
menuangnya ke dalam bejana kenangan dan mengaduknya
dalam tangisan di satu malam, kelak suatu hari nanti

Untuk perjanjian yang telah sama-sama kita khianati
kau tidak bisa berbalik arah dan memukul
sebab angin berlalu menyanyikan ayat-ayat takdir
istirahat hanya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk
menikam dan menuntut sebuah pengorbanan

nilai yang telah kita torehkan pada dinding-dinding kenyataan
adalah titah sang raja yang tak pernah sanggup kita tolak

nun jauh di seberang kenangan,
kenapa kau tiba-tiba hadir secara mengejutkan.

bengkulu, ramadhan 1426 h

Negeri Tanpa Waktu

Esok aku akan pergi ke negeri tanpa waktu
tanpa cahaya dan gelap malam nyaris sebagai hiasan di atas kepala
negeri yang jauh tanpa kata-kata, tanpa berita
di situ aku akan menemui seorang wanita berkerudung jingga

ia telah lama menunggu, katanya
menanti kesepakatan pada dunia yang ia khianati
padanya, ia telah bersumpah untuk membendung air mata
dan menjadikan keabadian sebagai titian

jauh-jauh dari hiruk pikuk dan kecemasan
ingin segera aku bertemu dengannya
selekas, tapi
di sana tak ada waktu, entahlah....
(RM, tanah patah--okt 2005--ramadhan 17)